TUGAS KE-10

 


WAWASAN NUSANTARA, GLOBALISASI, DAN KEUTUHAN BUDAYA INDONESIA: SEBUAH REFLEKSI


Nama : Argia qatrunnada 

NIM : 43125010364

Mata Kuliah : Kewarganegaraan 


Pendahuluan

Wawasan Nusantara adalah cara pandang masyarakat Indonesia terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar sebagai satu kesatuan yang utuh, baik dari segi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, maupun pertahanan dan keamanan. Konsep ini muncul karena kesadaran bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dan hanya bisa bertahan jika seluruh wilayah dan elemennya dianggap sebagai satu kesatuan yang utuh. Di era modern, konsep ini kembali relevan karena bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang semakin rumit, terutama dampak dari globalisasi dan keberagaman budaya yang ada di dalam negeri. Dua isu ini memiliki dampak besar: globalisasi membuka akses bebas terhadap budaya dan ekonomi dunia, sementara keberagaman budaya Indonesia memberikan potensi kekuatan sekaligus kemungkinan konflik. Oleh karena itu, esai ini mengatakan bahwa Wawasan Nusantara sangat penting sebagai dasar strategis dan moral dalam menjaga ketahanan bangsa, agar Indonesia tetap bisa bertahan, berdaulat, dan memiliki identitas yang jelas di tengah arus globalisasi yang semakin deras serta dinamika keberagaman yang terus berkembang.


Bagian I – Wawasan Nusantara dan Tantangan Globalisasi


Globalisasi sebagai Ancaman dan Peluang

Globalisasi membuat batas negara terasa semakin samar. Informasi bisa berpindah dalam beberapa detik, budaya asing masuk dengan mudah, dan persaingan di bidang ekonomi menjadi lebih ketat. Di satu sisi, globalisasi membawa peluang besar, seperti akses ke pasar yang lebih luas, kemajuan teknologi yang cepat, dan peningkatan hubungan dengan negara lain. Namun di sisi lain, globalisasi juga membawa ancaman terhadap identitas nasional Indonesia. Masuknya budaya populer dari luar, seperti gaya hidup kekonsumtif, nilai individualisme, dan penyebaran budaya global, bisa mengikis nilai-nilai Pancasila yang merupakan ideologi bangsa. Di bidang ekonomi, globalisasi membuat Indonesia harus bersaing dengan negara-negara besar. Ketergantungan terhadap produk asing, dominasi perusahaan teknologi luar, dan ketidakseimbangan antara industri lokal dan asing menjadi tantangan nyata. Jika tidak dikelola dengan pendekatan nasional, globalisasi bisa melemahkan kemandirian ekonomi dan memperparah ketergantungan pada pihak luar.


Wawasan Nusantara sebagai Filter


Dalam konteks ini, Wawasan Nusantara bekerja sebagai alat pengawas agar Indonesia tetap kuat di tengah arus global yang cepat. Prinsip Kesatuan Politik mengingatkan bahwa semua kebijakan pemerintah harus menjaga kedaulatan Indonesia, baik dalam hal wilayah maupun ideologi. Meskipun globalisasi sudah menjadi bagian dari kehidupan, negara tetap harus memastikan nilai-nilai global tidak merusak prinsip kebangsaan dan kesatuan rakyat Indonesia.


Selain itu, prinsip Kesatuan Ekonomi dalam Wawasan Nusantara mengarahkan semua pihak, baik di pusat maupun daerah, untuk bekerja sama secara terpadu. Dengan cara pandang ini, globalisasi justru bisa jadi kesempatan. Indonesia bisa memperkuat industri lokal, mengembangkan ekonomi digital, dan membangun kerja sama internasional, tetapi tetap fokus pada kepentingan bangsa. Prinsip ini sangat relevan, terutama ketika Indonesia berupaya mendorong UMKM tidak hanya bertahan di pasar lokal, tetapi juga bisa bersaing di pasar internasional.


Refleksi Diri

Sebagai seorang mahasiswa, saya merasakan sendiri bagaimana globalisasi memengaruhi kehidupan sehari-hari. Banyak produk yang saya gunakan berasal dari luar negeri. Sumber belajar saya juga sering kali berasal dari platform internasional. Media sosial yang saya gunakan memperkenalkan nilai dan tren dari dunia luar yang kadang bertentangan dengan nilai-nilai lokal. Dalam kondisi seperti ini, Wawasan Nusantara menjadi pedoman penting agar saya tetap bisa memilih dengan bijak.


Contohnya, ketika saya ikut dalam sebuah diskusi tentang budaya populer Korea yang sangat populer di kalangan anak muda Indonesia. Saya menyadari bahwa menyukai budaya asing bukanlah hal yang salah, tetapi harus tetap diimbangi dengan rasa percaya diri terhadap identitas bangsa sendiri. Di sini, Wawasan Nusantara menjadi panduan—bukan untuk menolak globalisasi, tetapi untuk memilih dan mengutamakan nilai-nilai bangsa sebagai arah utama.


Bagian II – Wawasan Nusantara dan Kekuatan Keberagaman Budaya


Keberagaman sebagai Realitas Indonesia

Indonesia adalah negara yang sangat majemuk. Puluhan ribu pulau, ratusan suku, bahasa daerah, adat istiadat, dan agama menciptakan mosaik budaya yang tidak dimiliki negara lain. Keberagaman ini merupakan kekayaan besar, namun juga mengandung potensi perpecahan jika tidak dikelola dengan perspektif kebangsaan. Perbedaan SARA sering menjadi pemicu konflik sosial, terutama ketika dipolitisasi.


Di sinilah konsep Bhinneka Tunggal Ika menjadi sangat penting, dan konsep tersebut diperkuat melalui Wawasan Nusantara. Dengan cara pandang ini, keberagaman bukan sesuatu yang harus diseragamkan, melainkan harus dikelola agar menjadi kekuatan bersama.


Wawasan Nusantara sebagai Integrator

Melalui prinsip Kesatuan Sosial-Budaya, Wawasan Nusantara mengajarkan bahwa keberagaman budaya Indonesia justru merupakan unsur pemersatu apabila diikat dengan nilai kebangsaan. Wawasan Nusantara mendorong setiap warga negara untuk melihat keberagaman sebagai sesuatu yang saling melengkapi, bukan saling meniadakan.


Asas-asas Wawasan Nusantara seperti Solidaritas, Keadilan, dan Kepentingan yang Sama penting untuk menjaga kohesi bangsa. Solidaritas memastikan bahwa masyarakat saling mendukung meski berbeda identitas. Asas keadilan memastikan bahwa setiap kelompok budaya mendapat perlakuan yang setara. Sementara asas kepentingan yang sama menegaskan bahwa seluruh elemen bangsa terikat oleh tujuan nasional yang sama yaitu kesejahteraan dan persatuan.


Peran Mahasiswa sebagai Agen Perubahan

Mahasiswa memiliki peran strategis dalam mengaktualisasikan Wawasan Nusantara. Di lingkungan kampus yang multikultural, mahasiswa menjadi jembatan untuk membangun pemahaman antarbudaya. Mahasiswa dapat berperan melalui hal-hal sederhana, seperti menghargai perbedaan teman, menghindari ujaran kebencian, dan menolak politisasi identitas. Di tingkat yang lebih luas, mahasiswa dapat terlibat dalam kegiatan sosial, penelitian, atau advokasi publik yang menjunjung nilai kebangsaan dan persatuan.


Bagi saya pribadi, memahami perbedaan budaya di kampus membuat saya menyadari bahwa keberagaman bukan sumber masalah, melainkan kekuatan besar jika dikelola dengan cara pandang Wawasan Nusantara. Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa peran mahasiswa sangat penting untuk menjaga harmonisasi sosial di tengah perubahan zaman.


Penutup

Secara keseluruhan, globalisasi dan keberagaman budaya adalah dua tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia. Globalisasi membawa peluang sekaligus ancaman bagi identitas dan kemandirian bangsa, sementara keberagaman budaya memerlukan pengelolaan yang bijaksana untuk mencegah disintegrasi. Dalam kondisi seperti ini, Wawasan Nusantara menjadi pedoman yang tidak hanya relevan, tetapi juga semakin vital.


Konsep ini memberikan arah untuk menyaring pengaruh global, memperkuat jati diri nasional, dan mengelola keberagaman secara konstruktif. Sebagai mahasiswa, saya merasa bahwa menghidupkan kembali Wawasan Nusantara bukan hanya tugas negara, tetapi juga tanggung jawab individu. Komitmen saya adalah menerapkan nilai-nilai Wasantara dalam sikap sehari-hari: menghargai perbedaan, bersikap kritis terhadap budaya global, dan mengutamakan kepentingan bangsa. Dengan demikian, Wawasan Nusantara tetap menjadi kompas bersama untuk menjaga keutuhan, identitas, dan masa depan Indonesia.


Daftar Pustaka (APA Style)

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. (2015). Modul Wawasan Nusantara. Jakarta: Kemhan RI.


Lemhannas RI. (2014). Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Nasional. Jakarta: Lembaga Ketahanan Nasional.


Manan, Bagir. (2019). Keutuhan Bangsa dalam Perspektif Wawasan Nusantara. Jakarta: Rajawali Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS KE-2

TUGAS KE -5